A (not) Shy Guy

albaransyah's posts with tag: movie review

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag movie review
ReviewReviewReviewReviewJUNOJun 5, '08 12:15 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Mau berpendapat tentang Juno, film yang semalam saya tonton dengan Endah di Hollywood KC. Setelah sebelumnya selalu dicekoki dengan film blockbuster Hollywood yang penuh dengan sound effect dan digital image/special effect canggih yang membuat saya betul betul melihat FILM. Film dalam arti situasi yang tidak membumi, diluar realita yang mungkin terjadi. Dan obviously NOT so Human
.
Tentang Juno
Juno menawarkan sebuah tontonan yang merupakan realita sederhana dari keadaan yang ”mungkin” bisa terjadi dimana saja. Sama sekali tanpa sound effect yang memekakkan telinga, atau special effect kelewat canggih yang mungkin kita merasa out of my mind.

Juno bercerita tentang anak usia SMU yang sudah mulai aktif secara sexual dan karena kurang kdekatan dengan orang tua melakukan explorasi tentang hal tersebut dengan teman sebayanya. Explorasi kebablasan ini membuahkan kehamilan bagi dirinya.
Setelah berkonsultasi dengan Leah sahabtnya, diputuskan untuk menggugurkan kandungan di clinic ”Women know” yang terhadang oleh demonstrasi kecil2 an sou-chin temannya yang mengatakan ” Jangan jangan bayi yang akan kau gugurkan sudah mempunyai kuku”.
Dengan kesadaran sendiri dia mencari jalan keluar atas keadaan ini, mencari calon orang tua angkat yang akan mengadopsi jabang bayi, berterus terang kepada orang tuanya sendiri dan akhirnya tetap bersekolah dengan perut semakin membuncit.

Kekuatan
Dialog dialog lancar dan natural Ellen page lah yang menjadi sentral cerita, kekuatan akting Gadis ini dalam mebawakan peran Juno McGuff patut di acungi penghargaan. Mengalir dengan lancar, adegan dia tergagap dalam menjelaskan sesuatu, adegan dia dia menangisi nasib ketika pulang dari rumah calon adopted parent nya yang ternyata hanya sang istri menghendaki anak dalam keluarga itu yang membuat Juno shock.
Akting lain yang bagus adalah ibu tiri Juno, dapat memberikan sosok orang tua yang care dengan versi nya sendiri. Typikal western parent.
Peran peran lain bermain standard. Sekali lagi kekuatan film ini dari kwalitas akting aktriss belia ini. Selain itu screenplay yang diganjar Oscar dalam academy award tahun ini memang dirasakan tepat, cerita sederhana dapat dibuat sedemikian rupa tanpa kehilangan sensasy humornya.

Akhirnya
Sebuah tontonan, sebaiknya dapat di ambil pelajaran., dan pelajaran yang saya dapat dari film ini adalah :” Bertanggungjawablah terhadap kesalahan yang sudah diperbuat, perbaiki dan tetap berjalan dengan muka terangkat ”.
Sebesar apapun kesalahan tersebut hadapi dengan tegar, bukan karena tidak tau malu, namun akan semakin besar kesalahan tersebut apabila menimpakan sesal dan kesalahan – kesalahan lain diatasnya.

Wassalam


ReviewReviewReviewReviewKalyaDinataMar 18, '08 9:49 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Other
KalyaDinata : Nilai komersil dan kwalitas yang berjalan bersama

Bila menyebutkan kata Kalyanashira mungkin tak akan banyak yang mengetahuinya, tapi kalau disebutkan nama Nia Dinata, Ca BAu Kan, Arisan atau Berbagi Suami pastilah orang akan mengenalinya. Nama dan film film tersebut memang lahir dari rumah produksi ini. Sosok yang menggawangi Production House atau PH (sebutan keren untuk rumah produksi) adalah seorang perempuan bernama NIA DINATA. Tak banyak yang mengetahui sosok Nia Dinata sebelumnya, sosok perempuan dengan fikiran terbuka dan mempunyai ide cemerlang dalam mewujudkan sebuah kisah menjadi sebuah film.
Tersebutlah Novel karangan Alm. Remy Silado yang tebal namun dengan lancarnya diadaptasi oleh Nia Dinata menjadi sebuah naskah yang kemudian sukses diproduksi oleh Kalyanashira, dan akan banyak lagi contoh contoh kesuksesan sebuah ide yang akhirnya bisa diwujudkan dalam pita seluloid dari tangannya.




Komersil = Kwalitas

Sekarang timbul pertanyaan besar, mengapa Film produksi Kalyanashira bisa sukses secara komersial maupun kwalitas? Sesungguhnya tak ada satupun resep yang bisa dijadikan patokan pasti suatu film akan sukses atau tidak dipasaran. Sutradara yang handal, produser ternama atau bintang terkenal sebagai pemainnya bukanlah sebuah jaminan, lihatlah di dunia luar sana, Hollywood sebagai kiblat perfilman dunia tetap menyisakan kisah sedih kegagalan sebuah produksi film walaupun sudah menggunakan resep sutradara atau pemain terkenal dan dimodali oleh produser dari rumah produksi ternama.
The Thin Red Line disutradarai oleh Terrence Malique yang sempat vakum menyutradarai selama beberapa tahun dan ``comeback“ dengan menggandeng Nicholas Cage namun gagal, Tom Cruise di film Vanilla Sky,Aktris sekelas Maddona bias gagal dalam film re-make Runing Away, penyanyi Mariah Carey yang mencoba main film namun langsung gagal dalam Glitter .Bahkan Sutradara kelas Oscar sekelas Peter Jackson bisa juga tidak menutupi biaya produksi filmnya ketika membuat Kingkong versi 2006.

Lalu resep apa yang dipakai Kalyanashira dan Nia untuk bisa mempertahankan kesuksesan filmnya. Sepertinya resepnya adalah kemampuan meramu ide cerita yang unik menjadi naskah dan menuangkannya dalam bentuk gambar, karena seunik apapun ide tapi tidak disertai kemampuan menerjemahkannya hanya akan membuat film itu menjadi sebuah tontonan yang tidak akan membuat orang tertarik.
Bukankah proses menonton dibioskop itu adalah sebuah proses yang betul betul dilakukan dengan sebuah kesengajaan oleh seorang manusia? Disana ada proses terrencana untuk menonton sesuatu, berangkat kebioskop, membeli karcis (yang harus digaris bawahi adalah kata membeli karena itu merupakan dilakukan dengan niat dan dana).
Berbeda dengan menonton di televisi, karena acara yang anda dan saya tonton bisa saja adalah sebuah kebetulan, kebetuan menonton, kebetulan menarik maka anda menjadi kebetulan untuk menontonnya, walaupun proses menghidupkan televisi adalah sebuah kesengajaan juga tapi itu lebih kepada kesengajaan yang iseng, tanpa niat yang kuat untuk menonton sesuatu.

Sekilas sukses Kalyana
Kembali kepada Film keluaran Kalyanashira, ternyata bukan hanya yang disutradarai oleh Nia Dinata yang meraih sukses, beberapa sutradara yang juga dproduseri dapat pula menunjukkan kedua hal tersebut, membuktikan bahwa sukses komersil tidak selalu berlawan arah dengan mutu sebuah film. Janji Joni ditahun 2004, film yang di sutradarai dan ditulis oeh Joko Anwar cukup membuat penikmat film (khususnya saya) tercengang, betapa kisah seorang pengantar roll film di bioskop bisa diracik sedemikian rupa menjadi sebuah tontonan yang menghibur dan menarik, saya sampai tak habis fikir, kok bisa ya orang bisa punya ide seunik ini dan bisa menyampaikannya dalam wujud gambar. Thats Miracle!!

Baru baru ini kita disuguhi oleh film tentang peristiwa Bom Bali pertama. Setelah 7 tahun peristiwa bom bali itu berlalu barulah sekarang peristiwa tersebut difilmkan, dengan gendre separuh dokumenter dan separuh fiksi film yang diproduseri Kalyanashira dan TelesinemaProductin Australia dan disutradarai oleh Enison Sinaro (bukan Nia Dinata) mampu membukakan mata penontonnya melalui tiga sosok manusia yang digambarkan berdekatan dengan para korban atau mereka yang tidak sengaja menjadi korban peristiwa kekejaman kemanusiaan itu. Film ini juga mencoba menjelaskan Makna Jihad versi mereka yang terlibat dalam gerakan Jamaah Islamiyah pimpinan Hambali.





Kalyanashira dan festival serta piala
Dalam perjalanannya, film film produksi mereka mendatangkan banyak pujian, dan tidak sedikit penghargaan dan piala yang di raih oleh film produksi Kalyanashira, selain sutradara terbaik dalam Festival film Asia Pasifik untuk film Janji Joni di tahun 2005, namun yang paling fenomenal adalah masuk dan terpilihnya film Berbagi Suami yang disutradarai oleh Nia Dinata untuk sebagai Nominator untuk kategori film berbahasa asing terbaik dalam ajang pemanasan piala Oscar, ajang bergengsi yang menjadi barometer sinema dunia.

Film sebagai wilayah pendidikan dan hiburan tetap tak akan bisa dipungkiri lebih mengedepankan sisi bisnis, perhitungan bisnis harus dilakukan, karena produser butuh modal yang besar untuk menbiayai sebuah produksi dan setelah ditanamkan diharapkan dapat menuai hasil yang kalau perlu berlipat ganda dari modal yang ditanam.
Namun tidak bisa dipungkiri peran media daam kesuksesan sebuah film untuk menarik perhatian masyarakat penonton sangat besar, apa kata media kadang memberikan refferensi sangat besar untuk menggugah rasa kepenasaran orang untuk mau beranjak ke Bioskop mengantri dan akhirnya membeli sebuah tiket pertunjukkan.

Media baik cetak maupun televisi dan radio biasanya akan bertindak netral dalam menilai sebuah film (dengan catatan media tersebut juga merupakan yang terpercaya). Refferensi kadang diperlukan oleh penikmat film agar tidak sia sia membuang uangnya namun akhirnya just for nothing.
Media dapat menjadi kawan yang baik sekaligus musuh yang bisa menghujat, lihatlah kasus film Indonesia untuk konsumsi ABG, keluaran rumah produksi besar bertitle eiffel Im in Love, film yang skenarionya di tulis anak yang masih di bangku sekeloh menengah ini bisa sukses dipasaran karena ditulis dengan bahasa ABG oleh seorang ABG, kekuatan naskah ini bisa di appresiasi oleh media dengan sikap positive dan memberikan penilaian layak tonton, namun untuk film keduanya Siapa takut jatuh cinta, masih dengan pemain, produser dan sutradara yang sama, mencoba memadukan kisah yang agak berbeda karena kali ini cerita bukan lagi ditulis oleh sang ABG (Rahmadania) film ini menjadi tidak jelas apa maunya dan hendak menceritakan apa, media mengapresiasi terbalik dari expektasi sebelumnya, maka gagallah film ini dipasaran.

Masyarakat penonton saat ini adalah penonton kritis yang ingin mendapatkan sesuatu dari film yang di tontonnya tanpa harus merasa digurui, mereka bisa mendapatkan sumber informasi dari banyak tempat, koran, televisi, radio dan internet tentang film yang sedang beredar, dan mana yang layak dan tidak layak tonton versi media pada awalnya.
Walaupun media bukanlah dewa yang bisa menghakimi dan memberikan stigma baik atau buruk sebuah karya sinema, ada faktor lain yang juga bisa ikut menentukan sebuah film seperti gaya pengemasan dalam promosi sebelum film tersebut di launching (diluncurkan ke khalayak).
Jumpa fans, pemutaran Gratis dikampus dan pusat kebudayaan atau pemutaran khusus bagi kalangan tertentu (biasanya pengamat film) serta sessi tanya jawab dari seluruh yang terlibat bisa dijadikan pilihan, atau bagi produser yang berbudget besar mereka akan menggelar acara seperti Gala Premiere lengkap dengan Red Carpetnya seperti yang lazim di barat ketika sebuah rumah produksi besar meluncurkan film anyarnya.

Soundtrack
Satu yang tak bisa di pandang sebelah mata, peranan Soundtrack dalam mendongkrak minat orang untuk menonton. Masih ingat dengan kasus Film Titanic dengan lagu My heart Will Go On yang melegenda itu?. Bahkan ketika itu film dan Soundtracknya tak kunjung turun dari jajaran lagu dan film nomer satu di Amerika dan Eropa dalam beberapa minggu awal peluncurannya.

Peranan Soundtrack cukup vital dalam memperindah dan membawa kesinambungan antara bahasa gambar dan perasaaan yang ingin dilukiskan, bahkan sebuah lagu soundtrack yang pas bisa merepresentasikan sebuah film, contohnya Ada apa dengan cinta, bisa merekam kegamangan dalam hidup seorang tokoh Cinta yang diperankan oleh Dian Sastro tentang perasaannya kepada sosok Rangga.

Film Kalyana Shira walau tidak terlalu booming dalam hal soundtrack seperti film Ada apa dengan cinta di atas, namun tetap memberikan perhatian dan sentuhan musik ini, lagu lagu dari group musik White Shoes and the couples company yang bernuansa eighties dalam janji Joni seperti lagu Windu Devina ,atau lagu lagu group musik Warna dalam film Ca Bau Kan cukup mewakili fimnya.

Akhirnya...
Membuat fim memang bukan sesuatu yang bisa diangap remeh` . Apalagi ditujukan bukan semata mata untuk mencapai pendapatan setinggi tinggnya, namun juga bukan berniat untuk membuat kebangkrutan si produser dengan mengedepankan idealisme tanpa bisa ditawar tawar, oleh karena itu perlu usaha keras dengan pemikiran matang memproses sebuah ide menjadi bahasa tulisan dan dikembangkan menjadi sebuah gambar. Jangan sampai kasus film film idealis yang akhirnya mematikan sendiri bibit idealisme itu karena kerugian dalam berproduksi seperti yang terjadi dalam Novel tanpa Huruf R – Aria Kusumadewa, atau Bettina – Lola Amaria.
Namun juga jangan sampai terperangkap dalam keinginan membuat film dengan nilai komersil yang tinggi tanpa mengindahkan norma dan nilai estetika seperti kasus film Buruan Cium Gue.
Ternyata memang bukan perkara mudah menyatukan antara nilai komersialisme sebuah produk dengan sebuah cita rasa yang bisa di terima dan dihargai serta tidak jatuh menjadi karya seni bercita rasa rendah.
Kebersamaan sukses antara Kwalitas dan juga nilai komersil yang bisa ditunjukkan oleh film film produksi kalyanashira semoga bisa diikuti oleh sineas sineas kita yang lain dan mereka dapat meramu rahasia film yang bukanlah merupakan rahasia dari Kalyanashira. Semoga.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller